Sabtu, 04 April 2015

CONTOH NASKAH DRAMA PENDIDIKAN

                                                                
                                      CAHAYA DI BALIK SANG SURYA
            

                          Pagi itu Wanda dan Mahlil berangkat dari rumah menuju ke sekolah. Tapi mereka harus memerlukan perjuangan menuju ke sekolah. Mereka  harus melewati hutan dan sungai yang cukup deras. Di tengah perjalanan wanda kelelahan dan berjalan dengan lambat.

Mahlil                  : (menepuk bahu wanda dari belakang) “ Wan, kalau udah besar mau jadi  apa?”
Wanda                 : ( kaget) “ ah, kau ini bikin kaget aja. Mana mungkin anak desa seperti kita dapat meraih cita-cita”
Mahlil                  :”hahaha. Memang kita anak desa yang jauh dari pendidikan tapi kita juga anak bangsa yang akan merubah negri ini”
Wanda                 :”iya, tapi kalau seperti ini terus bagaimana cara meraihnya?”
Mahlil                  :”ah kau ini, itu tergantung kita wan. Eh itu sekolah udah dekat kita lomba yuk?”
Wanda                 :” ayok siapa takut”


Merekapun berlari hingga sampai di sekolah. Ternyata mereka sudah di tunggu temannya. Temannya itu bernama amel. Anak dari seorang petani yang cukup pintar dan sangat cantik. Kemudian Wanda dan Mahlil memasuki kelas.

Mahlil                  : (mengetok pintu sambil masuk)” assalaamu ‘alaikum”.
Amel                    :”wa’alaikumussalam mahlil, wanda”.

Kemudian Mahlil dan Wanda duduk di bangku mereka masing-masing.
Amel                    :”kapan ya kita bisa membanggakan desa ini?” (sambil melamun)
Mahlil                  :”sebentar lagi mel,ingat gak yang di bilang buk uli, kalau kita ingin berhasil dan memperjuangkannya pasti allah akan membantu kita”.
Amel                    :”oh iya lupa( sambil tersenyum kepada mahlil dan wanda). Kalau gitu kamu setelah ini kamu mau kemana?”.
Mahlil                  :” insya allah ke ITB”.
Amel                    :”wah, jauh amat. Emang bisa?”.
Mahlil                  : (Tersenyum)” ya bisalah, apa yang gak bisa aku capai kalau allah menolongku”.
Wanda                 :”iya benar yang di katakan mahlil, Allah akan menolong hamba yang menyayanginya. Dan ingat mel, hidup ini keras Cuma orang yang mau berjuanglah yang akan berhasil”.
Amel                    :”kalian memang sahabat terbaikku. Terima kasih ya atas penjelasannya”.
Wanda                 :” iya sama-sama”.

Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara langkah kaki seseorang. Ternyata itu bu uli. Kemudian Mahlil, Wanda dan Amel mengambil buku mereka masing-masing. Buku yang telah usang di makan usia.

Bu Uli                   :”Assalaamu ‘alaikum anak-anak, gimana kabarnya?”.
Mahlil, Wanda dan Amel:”Wa’alaikumussalam, alhamdulillah baik bu”.
Bu Uli                   :” sekarang kita akan belajar tentang biologi. Biologi adalah pelajaran yang membahas tentang makhluk hidup. Sekarang kita akan pergi ke hutan dan belajar dari alam sekitar kita dengan begitu kalian mudah mengerti tentang pelajaran yang mau ibu ajarkan kepada kalian”.
Mahlil                  :”mendingan kita pergi ke hutan di samping sekolah,bu. Di sana banyak tumbuhan dan hewan-hewan yang masih terjaga”.
Wanda                 :”iya bu, benar apa yang di bilang mahlil. Kami sering lewat sana bu”.
Amel                    :”mendingan kita pergi sekarang bu, takut nanti turun hujan  malah gak jadi”.
Bu Uli                   :”oh, kalau gitu, kita pergi sekarang aja”.(sambil membawa buku biologi usang yang dia miliki)

Mereka pun pergi ke hutan. Di sana Bu Uli dengan semangat memperkenalkan kepada murid-muridnya tentang makhluk hidup yang mereka jumpai dan yang belum mereka ketahui. Bu Uli juga memberikan motivasi kepada mereka.

Bu Uli                   :”Anak-anak, kalian memang anak desa yang jauh dari pndidikan yang layak. Tapi ingat, kalian juga anak bangsa yang akan merubah negri ini. Jangan pernah putus asa dan teruskan perjuanganmu dengan semangat dalam menghadapi hidup ini. Tuhan tidak pernah tidur. Dia akan membantu hambanya yang mencintainya.
Datang seorang petani menghampiri mereka.
Petani                  : (tertawa)”itu semua hanya cita-cita belaka yang pasti tidak akan tercapai”
Bu Uli                   :” kau akan melihat anak didik ku ini berhasil”(sambil tersenyum kepada petani)
Petani                  :” mana mungkin anak bodoh seperti mereka dapat meraih cita-cita”.(tertawa)
Bu Uli                   :” kita akan lihat nanti siapa yang bodoh, mereka atau kamu yang kerjanya mencaci orang lain”.
Petani                  :”mencaci? Itu bukan mencaci. Itu adalah fakta yang memang mereka miliki”.
Bu Uli                   :” lihat wajah murid-murid ku ini. Nanti mereka akan mendatangi dengan keberhasilan”.
Petani                  :” tampang bodoh di lihat lihat. hahahaha”.(sambil pergi dengan tertawa terbahak-bahak)

Petani itupun pergi dengan rasa jengkel. Bu Uli kemudian melanjutkan pelajaran yang ingin dia sampaikan. Dan menyarankan agar murid-muridnya tidak mendengar apa yang dikatakan Petani tadi. Mahlil,Wanda dan Amel terlihat tambah semangat dalam belajar. Sesudah pulang sekolah mereka pulang ke rumah masing-masing dan membantu orang tua mereka. Haripun berlalu. Tibalah saat-saat yang dinanti-nanti. Mahlil,Wanda dan Amel akan menjalani ujian Nasional. Bu Uli dengan susah payah dan berjuang untuk mendapatkan soal UN dan mendaftarkan Mahlil,Wanda dan Amel untuk ikut UN. Tapi apa yang terjadi, ternyata Amel mendapat nilai tertinggi se-Indonesia.Amel diberikan keistimewaan oleh pemerintah untuk memilih sendiri Universitas yang dia inginkan. Amel memilih untuk mendapatkan beasiswa ke Oxport, Mahlil di terima di ITB sedangkan Wanda diterima di USU. Ketika akan meninggalkan desa mereka bertiga pergi ke rumah Bu Uli Untuk meminta do’a restu dan ingin berpamitan.

Mahlil                  :”wan, kita ke rumah Bu Uli aja dulu. Kan sekalian minta do’a restu dan berpamitan sama beliau”.
Wanda                 :” iya lil, kalau gitu kita berangkt aja sekarang mumpung Bu Uli ada di rumah”
Amel                    :”ayok”

Sesampainya di rumah Bu Uli yang sangat sederhana. Tidak seperti tempat tinggal guru-guru di kota. Merekapun mengetok pintu kemudian mengucapkan salam.

Amel                    :”assalaamu ‘alaikum, bu”.
Bu Uli                   :”wa’alaikumussalam, eh kalian masuk nak. Gimana kabarnya?”.
Mahlil                  :”alhamdulillah baik bu, kalau ibu gimana?”.
Bu Uli                   :”alhamdulillah ibu juga baik, eh ngomong-ngomong ada acara apa? Kok kalian datang ke sini?”.
Wanda                 :” gini bu, berkat ibu kami anak desa yang terbelakang dapat melihat dunia. Terima kasih ya bu atas pengorbanan ibu kepada kami”.
Bu Uli                   :”iya sama-sama nak. Ini juga kan berkat semangat kalian dalam mendapatkan ilmu”.

Merekapun saling melampiaskan kebahagiaan satu sama lain.Tibalah waktu dimana mereka harus berpamitan kepada Bu Uli, setelah sebelumnya berbincang-bincang.

Mahlil                  :”Bu, kami disini ingin meminta do’a restu sekaligus berpamitan kepada ibu. Terima kasih ya Bu, atas semuanya”.
Bu Uli                   :”iya, kalian juga baik-baik ya. Buat desa dan orang tua kalian bangga”.
Wanda                 :”iya Bu, kami akan berusaha semaksimal mungkin”.

Kemudian mereka bertiga meninggalkan desa dan memulai perjalanan baru. Sesampai di universitas masing-masing mereka bertiga memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar, belajar dan belajar. Tahun berganti tahun, tibalah saat-saat wisuda yang di tunggu-tunggu. Ternyata IPK mereka fantastis. Mereka termasuk IPK tertinggi di universitas mereka masing-masing. Dan akhirnya mereka bisa membuktikan kepada negara dan dunia bahwa anak desa juga anak bangsa yang akan merubah suatu negri.
Mereka bertiga berhasil di bidangnya masing-masing. Amel dosen di ITB, wanda berhasil sukses di bidang arsitektur dan Mahlil terlempar jauh ke brazil dan bekerja perminyakan di sana. Suatu hari Amel menghubungi Mahlil.

Amel                    :”lil, kamu dimana?”.
Mahlil                  :”aku lagi di brazil, di kota brasilia. Emang kenapa?”.
Amel                    :”aku kangen sama kampung, gimana kalau besok kita pulang kampung?”.
Mahlil                  :”terserahlah mel, aku juga kangen apalagi sama Bu Uli”.
Amel                    :”oh, kalau gitu besok kita berangkat dari tempat masing-masing ya. Jangan lupa hubungi Wanda’.
Mahlil                  :”iya, insya allah. Kalau gitu udah dulu ya, ini lagi banyak kerjaan. Maklumlah orang sibuk”.
Amel                    :”iyalah, jangan lupa bawa’ oleh-oleh dari brazil ya. Assalaamu ‘alaikum”.
Mahlil                  :”iya kalau gak lupa. Wa’alaikumussalam”.

Keesokan harinya, Mahlil berangkat dari Brasilia menuju ke Indonesia sedangkan Wanda sudah menunggu Mahlil dan Amel di bandara. Setelah mereka bertemu, mereka segera berangkat ke desa dengan mengendarai angkutan umum. Perjalanan mereka tempuh selama 2 jam. Sesampainya di desa mereka di sambut oleh masyarakat, kerabat dan petani yang menghina mereka dulu.

Petani                  :”maafkan ibu ya nak, dulu ibu pernah mencaci kalian”.(sambil menyalami Mahlil, Wanda dan Amel)
Mahlil                  :”gak apa-apa bu, malah berkat cacian ibu kami  tambah semangat dalam mengejar impian kami”.(sambil tersenyum kepada Petani dan melihat-lihat di sekelilingnya)”Wan, ada yang janggal gak?”.
Wanda                 :”oh iya, IbuUli mana?”.
Mahlil                  :”iya Wan, dari tadi aku gak liat Bu Uli”.
Amel                    :”kalau gitu kita ke rumahnya aja, mudah-mudahan Bu Uli ada disana”.
Mahlil                  :”kalu gitu kita berangkat aja sekarang, aku udah gak sabara ketemu Bu Uli dan berterima kasih atas jasanya”.
Wanda                 :”jangan ngomong aja lil, yuk cepat kita ke rumah Bu Uli”.
Amel                    :”ayok”.

Merekapun pergi ke rumah Bu Uli. Sesampainya di sana mereka menemukan Bu Uli telah terkapar di tempat tidurnya.

Wanda                 :”assalaamu’alaikum Bu, Ibu kenepa? Kenapa ibu bisa seperti ini? Kita ke rumah sakit ya Bu, biar ibu bisa sehat dan bermain lagi dengan kami”. (sambil menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir)
Bu Uli                   :”wa’alaikumussalam, ibu baik-baik aja nak. Masa’ orang-orang hebat nangis di depan gurunya sendiri”.(sambil batuk-batuk)
Mahlil                  :(menghapus air matanya)”ibu yang buat kami seperti ini, tapi apa yang telah kami berikan sama ibu? Tidak ada kan bu. Sekarang kami mohon supaya ibu mau menerima bantuan kami. Sekarang kita ke rumah sakit ya bu, biar ibu bisa sehat dan mengajari kami lagi seperti dulu”.
Bu Uli                   : (meneteskan air mata)”ibu sudah tua nak. Penyakit ini adalah penyakit tua. Mungkin umur ibu tidak akan lama lagi, pesan ibu sama kalian jangan pernah sombong dengan apa yang kalian miliki. Sejak dulu ibu percaya bahwa akan ada cahaya di balik sang surya. Dan kalian adalah salah satu dari cahaya tersebut’.
Mahlil                  :”jangan tinggalkan kami bu, kami belum sempat bahagiakan ibu”.
Bu Uli                   :”Ibu tidak akan pergi kemana-mana. Ibu akan selalu ada di dalam hati kalian”.(batuk dan mengeluarkan darah)
Wanda                 :”Ibu kenapa?”.
Bu Uli                   :” ini Cuma batuk biasa”.
Wanda                 :”jangan tinggalkan kami bu”.

Kemudian bu Uli menutup matanya untuk yang terakhir kali. Mahlil, Wanda dan Amel menangis atas kepergian guru yang mereka cintai. Rtapi mereka sadar akan pesan bu Uli bahwa mereka adalah cahaya dibalik sang surya yang akan menyinari Dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar