CAHAYA DI BALIK SANG SURYA
Pagi
itu Wanda dan Mahlil berangkat dari rumah menuju ke sekolah. Tapi mereka harus
memerlukan perjuangan menuju ke sekolah. Mereka
harus melewati hutan dan sungai yang cukup deras. Di tengah perjalanan
wanda kelelahan dan berjalan dengan lambat.
Mahlil :
(menepuk bahu wanda dari belakang) “ Wan, kalau udah besar mau jadi apa?”
Wanda :
( kaget) “ ah, kau ini bikin kaget aja. Mana mungkin anak desa seperti kita
dapat meraih cita-cita”
Mahlil :”hahaha.
Memang kita anak desa yang jauh dari pendidikan tapi kita juga anak bangsa yang
akan merubah negri ini”
Wanda :”iya,
tapi kalau seperti ini terus bagaimana cara meraihnya?”
Mahlil :”ah
kau ini, itu tergantung kita wan. Eh itu sekolah udah dekat kita lomba yuk?”
Wanda :”
ayok siapa takut”
Merekapun berlari hingga sampai di sekolah.
Ternyata mereka sudah di tunggu temannya. Temannya itu bernama amel. Anak dari
seorang petani yang cukup pintar dan sangat cantik. Kemudian Wanda dan Mahlil
memasuki kelas.
Mahlil :
(mengetok pintu sambil masuk)” assalaamu ‘alaikum”.
Amel :”wa’alaikumussalam
mahlil, wanda”.
Kemudian Mahlil dan Wanda duduk di bangku
mereka masing-masing.
Amel :”kapan
ya kita bisa membanggakan desa ini?” (sambil melamun)
Mahlil :”sebentar lagi mel,ingat gak
yang di bilang buk uli, kalau kita ingin berhasil dan memperjuangkannya pasti
allah akan membantu kita”.
Amel :”oh iya lupa( sambil
tersenyum kepada mahlil dan wanda). Kalau gitu kamu setelah ini kamu mau
kemana?”.
Mahlil :” insya allah ke ITB”.
Amel :”wah, jauh amat. Emang
bisa?”.
Mahlil : (Tersenyum)” ya bisalah, apa
yang gak bisa aku capai kalau allah menolongku”.
Wanda :”iya benar yang di katakan
mahlil, Allah akan menolong hamba yang menyayanginya. Dan ingat mel, hidup ini
keras Cuma orang yang mau berjuanglah yang akan berhasil”.
Amel :”kalian memang sahabat
terbaikku. Terima kasih ya atas penjelasannya”.
Wanda :” iya sama-sama”.
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara
langkah kaki seseorang. Ternyata itu bu uli. Kemudian Mahlil, Wanda dan Amel
mengambil buku mereka masing-masing. Buku yang telah usang di makan usia.
Bu Uli :”Assalaamu
‘alaikum anak-anak, gimana kabarnya?”.
Mahlil, Wanda dan Amel:”Wa’alaikumussalam,
alhamdulillah baik bu”.
Bu Uli :” sekarang kita akan belajar
tentang biologi. Biologi adalah pelajaran yang membahas tentang makhluk hidup.
Sekarang kita akan pergi ke hutan dan belajar dari alam sekitar kita dengan
begitu kalian mudah mengerti tentang pelajaran yang mau ibu ajarkan kepada
kalian”.
Mahlil :”mendingan kita pergi ke
hutan di samping sekolah,bu. Di sana banyak tumbuhan dan hewan-hewan yang masih
terjaga”.
Wanda :”iya bu, benar apa yang di
bilang mahlil. Kami sering lewat sana bu”.
Amel :”mendingan kita pergi
sekarang bu, takut nanti turun hujan
malah gak jadi”.
Bu Uli :”oh, kalau gitu, kita pergi
sekarang aja”.(sambil membawa buku biologi usang yang dia miliki)
Mereka pun pergi ke hutan. Di sana Bu Uli
dengan semangat memperkenalkan kepada murid-muridnya tentang makhluk hidup yang
mereka jumpai dan yang belum mereka ketahui. Bu Uli juga memberikan motivasi
kepada mereka.
Bu Uli :”Anak-anak, kalian memang
anak desa yang jauh dari pndidikan yang layak. Tapi ingat, kalian juga anak
bangsa yang akan merubah negri ini. Jangan pernah putus asa dan teruskan
perjuanganmu dengan semangat dalam menghadapi hidup ini. Tuhan tidak pernah
tidur. Dia akan membantu hambanya yang mencintainya.
Datang seorang
petani menghampiri mereka.
Petani : (tertawa)”itu semua hanya
cita-cita belaka yang pasti tidak akan tercapai”
Bu Uli :” kau akan melihat anak
didik ku ini berhasil”(sambil tersenyum kepada petani)
Petani :” mana mungkin anak bodoh
seperti mereka dapat meraih cita-cita”.(tertawa)
Bu Uli :” kita akan lihat nanti
siapa yang bodoh, mereka atau kamu yang kerjanya mencaci orang lain”.
Petani :”mencaci? Itu bukan mencaci.
Itu adalah fakta yang memang mereka miliki”.
Bu Uli :” lihat wajah murid-murid ku
ini. Nanti mereka akan mendatangi dengan keberhasilan”.
Petani :” tampang bodoh di lihat
lihat. hahahaha”.(sambil pergi dengan tertawa terbahak-bahak)
Petani itupun pergi dengan rasa jengkel. Bu
Uli kemudian melanjutkan pelajaran yang ingin dia sampaikan. Dan menyarankan
agar murid-muridnya tidak mendengar apa yang dikatakan Petani tadi.
Mahlil,Wanda dan Amel terlihat tambah semangat dalam belajar. Sesudah pulang
sekolah mereka pulang ke rumah masing-masing dan membantu orang tua mereka.
Haripun berlalu. Tibalah saat-saat yang dinanti-nanti. Mahlil,Wanda dan Amel
akan menjalani ujian Nasional. Bu Uli dengan susah payah dan berjuang untuk
mendapatkan soal UN dan mendaftarkan Mahlil,Wanda dan Amel untuk ikut UN. Tapi
apa yang terjadi, ternyata Amel mendapat nilai tertinggi se-Indonesia.Amel
diberikan keistimewaan oleh pemerintah untuk memilih sendiri Universitas yang
dia inginkan. Amel memilih untuk mendapatkan beasiswa ke Oxport, Mahlil di
terima di ITB sedangkan Wanda diterima di USU. Ketika akan meninggalkan desa
mereka bertiga pergi ke rumah Bu Uli Untuk meminta do’a restu dan ingin
berpamitan.
Mahlil :”wan, kita ke rumah Bu Uli
aja dulu. Kan sekalian minta do’a restu dan berpamitan sama beliau”.
Wanda :” iya lil, kalau gitu kita
berangkt aja sekarang mumpung Bu Uli ada di rumah”
Amel :”ayok”
Sesampainya di rumah Bu Uli yang sangat
sederhana. Tidak seperti tempat tinggal guru-guru di kota. Merekapun mengetok
pintu kemudian mengucapkan salam.
Amel :”assalaamu ‘alaikum, bu”.
Bu Uli :”wa’alaikumussalam, eh
kalian masuk nak. Gimana kabarnya?”.
Mahlil :”alhamdulillah baik bu, kalau
ibu gimana?”.
Bu Uli :”alhamdulillah ibu juga
baik, eh ngomong-ngomong ada acara apa? Kok kalian datang ke sini?”.
Wanda :” gini bu, berkat ibu kami
anak desa yang terbelakang dapat melihat dunia. Terima kasih ya bu atas
pengorbanan ibu kepada kami”.
Bu Uli :”iya sama-sama nak. Ini juga
kan berkat semangat kalian dalam mendapatkan ilmu”.
Merekapun
saling melampiaskan kebahagiaan satu sama lain.Tibalah waktu dimana mereka
harus berpamitan kepada Bu Uli, setelah sebelumnya berbincang-bincang.
Mahlil :”Bu, kami disini ingin
meminta do’a restu sekaligus berpamitan kepada ibu. Terima kasih ya Bu, atas
semuanya”.
Bu Uli :”iya, kalian juga baik-baik
ya. Buat desa dan orang tua kalian bangga”.
Wanda :”iya Bu, kami akan berusaha
semaksimal mungkin”.
Kemudian
mereka bertiga meninggalkan desa dan memulai perjalanan baru. Sesampai di
universitas masing-masing mereka bertiga memanfaatkan waktu yang ada untuk
belajar, belajar dan belajar. Tahun berganti tahun, tibalah saat-saat wisuda
yang di tunggu-tunggu. Ternyata IPK mereka fantastis. Mereka termasuk IPK
tertinggi di universitas mereka masing-masing. Dan akhirnya mereka bisa
membuktikan kepada negara dan dunia bahwa anak desa juga anak bangsa yang akan
merubah suatu negri.
Mereka
bertiga berhasil di bidangnya masing-masing. Amel dosen di ITB, wanda berhasil
sukses di bidang arsitektur dan Mahlil terlempar jauh ke brazil dan bekerja
perminyakan di sana. Suatu hari Amel menghubungi Mahlil.
Amel :”lil, kamu dimana?”.
Mahlil :”aku lagi di brazil, di kota
brasilia. Emang kenapa?”.
Amel :”aku kangen sama kampung,
gimana kalau besok kita pulang kampung?”.
Mahlil :”terserahlah mel, aku juga
kangen apalagi sama Bu Uli”.
Amel :”oh, kalau gitu besok kita
berangkat dari tempat masing-masing ya. Jangan lupa hubungi Wanda’.
Mahlil :”iya, insya allah. Kalau gitu
udah dulu ya, ini lagi banyak kerjaan. Maklumlah orang sibuk”.
Amel :”iyalah, jangan lupa bawa’
oleh-oleh dari brazil ya. Assalaamu ‘alaikum”.
Mahlil :”iya kalau gak lupa.
Wa’alaikumussalam”.
Keesokan
harinya, Mahlil berangkat dari Brasilia menuju ke Indonesia sedangkan Wanda
sudah menunggu Mahlil dan Amel di bandara. Setelah mereka bertemu, mereka
segera berangkat ke desa dengan mengendarai angkutan umum. Perjalanan mereka
tempuh selama 2 jam. Sesampainya di desa mereka di sambut oleh masyarakat,
kerabat dan petani yang menghina mereka dulu.
Petani :”maafkan
ibu ya nak, dulu ibu pernah mencaci kalian”.(sambil menyalami Mahlil, Wanda dan
Amel)
Mahlil :”gak apa-apa bu, malah berkat
cacian ibu kami tambah semangat dalam
mengejar impian kami”.(sambil tersenyum kepada Petani dan melihat-lihat di
sekelilingnya)”Wan, ada yang janggal gak?”.
Wanda :”oh iya, IbuUli mana?”.
Mahlil :”iya Wan, dari tadi aku gak
liat Bu Uli”.
Amel :”kalau gitu kita ke
rumahnya aja, mudah-mudahan Bu Uli ada disana”.
Mahlil :”kalu gitu kita berangkat aja
sekarang, aku udah gak sabara ketemu Bu Uli dan berterima kasih atas jasanya”.
Wanda :”jangan ngomong aja lil, yuk
cepat kita ke rumah Bu Uli”.
Amel :”ayok”.
Merekapun
pergi ke rumah Bu Uli. Sesampainya di sana mereka menemukan Bu Uli telah
terkapar di tempat tidurnya.
Wanda :”assalaamu’alaikum Bu, Ibu
kenepa? Kenapa ibu bisa seperti ini? Kita ke rumah sakit ya Bu, biar ibu bisa
sehat dan bermain lagi dengan kami”. (sambil menghapus air matanya yang sedari
tadi mengalir)
Bu Uli :”wa’alaikumussalam, ibu
baik-baik aja nak. Masa’ orang-orang hebat nangis di depan gurunya
sendiri”.(sambil batuk-batuk)
Mahlil :(menghapus air matanya)”ibu
yang buat kami seperti ini, tapi apa yang telah kami berikan sama ibu? Tidak
ada kan bu. Sekarang kami mohon supaya ibu mau menerima bantuan kami. Sekarang
kita ke rumah sakit ya bu, biar ibu bisa sehat dan mengajari kami lagi seperti
dulu”.
Bu Uli : (meneteskan air mata)”ibu
sudah tua nak. Penyakit ini adalah penyakit tua. Mungkin umur ibu tidak akan
lama lagi, pesan ibu sama kalian jangan pernah sombong dengan apa yang kalian
miliki. Sejak dulu ibu percaya bahwa akan ada cahaya di balik sang surya. Dan
kalian adalah salah satu dari cahaya tersebut’.
Mahlil :”jangan tinggalkan kami bu,
kami belum sempat bahagiakan ibu”.
Bu Uli :”Ibu tidak akan pergi
kemana-mana. Ibu akan selalu ada di dalam hati kalian”.(batuk dan mengeluarkan
darah)
Wanda :”Ibu kenapa?”.
Bu Uli :” ini Cuma batuk biasa”.
Wanda :”jangan tinggalkan kami bu”.
Kemudian bu Uli menutup matanya untuk yang
terakhir kali. Mahlil, Wanda dan Amel menangis atas kepergian guru yang mereka
cintai. Rtapi mereka sadar akan pesan bu Uli bahwa mereka adalah cahaya dibalik
sang surya yang akan menyinari Dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar